A. Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan Ilmu Pengetahuan - TopicsExpress



          

A. Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan Ilmu Pengetahuan ialah suatu uraian yang lengkap dan juga tersusun tentang suatu objek yang mempunyai cirri-ciri sebagai berikut; Mempunyai objek (lapangan) yang jelas dan dapat dipisahkan dari objek ilmu pengetahuan lain. Dalam uraian (lengkap) itu dijelaskan bagian demi bagian secara bersama-sama yang saling berkaitan secara keseluruhannya (sistematis).[1] Ilmu Pengetahuan menurut kadar sistemnya dapat kita bedakan menjadi dua; pertama; ilmu-ilmu murni dan kedua; ilmu-ilmu pengalaman (empiris).[2] Ilmu pengetahuan murni adalah ilmu yang terbebas dari factor pengalaman atau empiris, ia murni berdiri sendiri. Contohnya seperti ilmu pasti (matematika, hitung-hitungan), logika dan filsafat. Ilmu pengetahuan empiris atau pengalaman adalah ilmu yang terikat dengan objek-objek tertentu saja yang didapat dari pengalaman. Objek-objeknya bisa terdiri dari gejala-gejala kehidupan, seperti alam (ilmu alam), sejarah, gejala-gejala hidup atau situasi pendidikan.[3] Bagian ilmu pengetahuan empiris (pengalaman) dibagi kembali menjadi dua bagian, pertama; ilmu-ilmu pengetahuan alam kedua; ilmu-ilmu pengetahuan rohani. Ilmu pengetahuan alam, objek-objeknya terdapat di alam. Sifat metodenya eksperimental, empiris, analitis dan sintetis. Ilmu pengetahuan rohani, objek-objeknya terdapat dalam berbagai kegiatan rohani, seperti berbicara, kebahasaan, kesusastraan, kegiatan belajar mengajar (didaktik metodik) dan praktek-praktek yang mendidik lainnya. Sifat metodenya menyelam supaya tahu, memperhatikan sebab dan tujuan, menggunakan angket, tes dan interview.[4] Ilmu pendidikan merupakan ilmu pengetahuan rohani karena situasi pendidikan berdasarkan atas tujuan manusia tidak membiarkan anak manusia kepada keadaan alamnya, tetapi anak manusia dipandang sebagai mahluk susila dan mesti dibawa kea rah mahluk (manusia) susila yang berbudaya. Dari ilmu pengetahaun rohani itu dibagi kembali menjadi ilmu deskriptif dan normatif. Ilmu pengetahuan deskriptif, hanya menggambarkan objek-objek dari ilmu pengetahaan rohani itu Ilmu pengetahaun normatif, tergantung kepada pertimbangan nilainya.[5] Untuk menentukan berbagai objek dari ilmu-ilmu pendidikan itu tergantung kepada apa yang ditegaskan mengenai arti dari “mendidik”. Dalam hal ini pengukurannya menggunakan saatu norma. Selain itu ada juga pembagian ilmu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat teoritis dan praktis. Ilmu pendidikan teoritis dibagi menjadi ilmu mendidik sistematis, historis dan praktis.[6] Ilmu pendidikan termasuk ilmu pengetahuan empiris, rohani dan rormatif yang diangkat dari pengalaman (emiris) pendidikan, kemudian disusun secara teoritis untuk kemudian digunakan secara praktis.[7] Sebagai ilmu yang berdiri sendiri, maka ilmu pendidikan termasuk kepada ilmu yang baru saja berkembang; padahal secara praktis, proses pendidikan telah dimulai sejak manusia ada.[8] Tabel 1. Pembagian Ilmu Pengetahuan B. Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu yang Normatif Secara singkat ilmu pendidikan sebagai ilmu yang normative, alasannya karena ilmu pendidikan berdasar atas pemilihan antara yang baik dan sebaliknya untuk anak manusia secara husus dan manusia secara universal. Kenapa normatif, karena ilmu pendidikan senantiasa berurusan dengan pertanyaan yang singkat, siapa manusia itu?. Secara umum pembahasan mengenai manusia itu ada pada bidang filsafat, yaitu filsafat antropologi. Pandangannya tentang manusia ini sangat besar penaruhnya terhadap konsep-konsep pendidikan dan praktek-praktek pendidikan. Pandangan filsafat dapat menentukan dilai-dilai luhur yang dipegang teguh oleh pendidik mau pun bangsa yang mau atau sedang melaksanakan pendidikan. Nilai-nilai yang dipegang teguh itu dijadikan suatu norma-norma untuk menentukan cirri manusia yang diharapkan melalui praktek pendidikan. Sebenarnya nilai itu tidak hanya didapat dari praktek mendidik (pengalaman) saja, tapi juga bersumber dari norma-norma masyarakat, norma filsafat, pandangan hidup (way og life) dan juga dari norma agama.[9] Penjelasan mengenai system nilai yang menjadi norma bagi pendidikan, dapat kita cermati kisah sejarah berikut;[10] Kisah Yunani Tujuan pendidikan Yunani yakni pembentukan rakyat yang kuat jasmaninya. Mereka berpandangan bahwa manusia adalah mahluk bermain (homo ludens). Mereka berpandangan bahwa pendidikan jasmani adalah pendidikan utama karena mensana incorpore sano العقل السليم فى الجسم السلبم. Orang Yunani berpandangan demikian, dapat diketahui latar belakangnya; mereka berada di Negara yang sering mengalami ketegangan dengan Negara lain, sehingga perlu solusinya, untuk itu mereka harus kuat jasmaninya. Dari kisah sejarah tadi dapat dipahami bahwa system nilai yang menjunjung tinggi aspek jasmani telah memberikan corak normative tersendiri terhadap system pendidikan Yunani. Kisah Rasionalisme; pengaruhnya terhadap Eropa Barat Pandangan manusia menurut mereka adalah mahluk berfikir (homo sapiens). Akal dijadikannya pangkal tolak. Rakyatnya sangat menjunjung akal, baik akal teoritis maupun praktis. Dengan akal, manusia menghasilkan pengetahuan. Dengan pengetahuan maka manusia dapat berbuat baik dalam arti sempurna. Untuk contoh konkrit, Rene Descartes dengan metode kesangsiannya Cogito Ergo Sum (saya berfikir karena saya ada); sebab saya sadar saya ada, maka berarti ada yang meng-ada-kan saya, dan yang mengadakan itu adalah sempurna, maka apa-apa yang diciptakannya adalah sempurna. Dari faham ini dapat dikatakan bahwa akal (pengetahuan) maha kuasa. Ini merupakan aksioma:[11] implikasi pendirian ini bahwa pendidikan ini sangat menjunjung tinggi pengaruh pengetahuan dan peranan akal rasio. John Locke (bapaknya) empirisme yang sangat mementingkan pengaruh pendidikan atas dasar teori tabularasa (anak lahir secara fitrah). Dari contoh-contoh ini dapat dilihat bahwa ada nilai-nilai tertentu yang menjadi norma, seperti tadi pengetahuan yang merupakan norma bagi pelaksanaan pendidikan. Kisah John Dewey John Dewey dengan pragmatism (etika utilitarisme, ilmu jiwa behaviorisme). Diketahui normanya terletak pada; kebenaran itu terletak pada kenyataan yang praktis. Apa yang berguna bagi diri itu adalah benar, segala yang sesuai dengan praktek itulah yang benar. Pandangan John Dewey ini sangat berpengaruh dalam psikologi dan dapat menghasilkan berbagai metode mendidik dengan cara mendrill dan latihan yang akhirnya menghasilkan manusia sebagai mesin yang berdasar response terhadap stimulus. Dari kisah-kisah di atas Nampak jelas bahwa nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam pandangan manusia seseorang atau suatu bangsa itulah yang dijadikan norma atau criteria untuk mendidik. Norma-norma ini biasanya tergambar dalam tujuan pendidikan.[12] Dengan demikian ilmu pendidikan diarahkan kepada perbuatan yang mendidik dengan tujuan. Tujuan itu ditentukan oleh nilai yang dijunjung tinggi oleh seseorang atau bangsa, adapun nilai itu sendiri merupakan ukuran yang bersifat normatif. Maka dari itu ilmu pendidikan dikatakan sebagai ilmu yang bersifat normatif. Adapun al-qur’an memuat nilai-nilai normatif yang menjadi acuan dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut;[13] I’tiqodiyah yang berkaitan dengan iman kepada rukun iman yang 6, bertujuan sebagai piñata kepercayaan individu Khuluqiyah yang berkaitan dengan pendidikan etika, tujuannya membersihkan diri dari prilaku rendah dan menghiasi diri dengan prilaku mahmudah Amaliyah yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari-hari; baik yang berhubungan dengan muamalah atau pun ibadah. Pendidikan ibadah yang memuat hubungan antara manusia dengan tuhannya, seperti sholat, puasa, zakat, haji dan nadir; yang bertujuan untuk aktualisasi nilai-nilai ubudiyah Pendidikan muamalah yang memuat hubungan antar manusia, baik secara individual maupun institusional. Pendidikan syahsyiyah seperti prilaku individu (masalah pernikahan), hubungan suami-istri, keluarga serta kerabat dekat; bertujuan untuk membentuk keluarga sakinah dan mawadah warohmah. Pendidikan madaniyah yang berhubungan dengan perdagangan seperti upah, gadai, kongsi dan sebagainya; bertujuan untuk mengelola harta benda atau hak individu. Pendidikan jana’iyah yang berhubungan dengan pidana atau pelanggaran yang dilakukan; bertujuan untuk memelihara kelangsungan kehidupan manusia, baik berkaitan dengan harta, kehormatan, maupun hak individu lainnya. Pendidikan murofa’at yang berhubungan dengan acara seperti peradilan, saksi maupun sumpah; betujuan untuk menegakkan keadilan di antara anggota masyarakat. Pendidikan dusturiyah yang berhubungan dengan undang-undang Negara yang mengatur hubungan antara rakyat dengan pemerintah atau Negara; bertujuan untuk stabilitas bangsa Negara. Pendidikan duwaliyah yang berhubungan dengan tata Negara, seperti tata Negara Islam/ non-islam, wilayah perdamaian dan wilayah perang, hubungan muslim satu Negara dengan yang lainnya; bertujuan untuk perdamaian dunia. Pendidikan iqtishodiyah yang berhubungan denan perekonomian individu dan Negara, hubungan miskin dan yang kaya; bertujuan untuk keseimbangan atau pemerataan pendapatan. C. Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu yang Teoritis dan Praktis Ilmu pendidikan tidak hanya mencari pengetahuan deskiriptif tentang objek pendidikan, tetapi juga mencari pengetahuan bagaimana caranya agar berguna bagi objek didiknya. Dilihat dari maksud dan tujuannya, ilmu pendidikan disebut sebagai ilmu yang praktis karena ditujukan kepada praktek-praktek dan perbuatan yang mempengaruhi anak didiknya. Namun walaupun ilmu pendidikan ditujukan pada peaktek mendidik, tetapi perlu dibedakan antara ilmu pendidikan sebagai ilmu bersifat teoritis dan ilmu pendidikan sebagai ilmu bersifat praktis. Dalam ilmu pendidikan teoritis dibagi lagi menjadi ilmu pendidikan sistematis dan ilmu pendidikan historis. Ilmu Pendidikan Teoritis Ilmu pendidikan teoritis para ahli dalam pemikirannya mengatur dan mensistemkan berbagai masalah yang tersusun sebagai pola pemikiran pendidikan. Caranya dari berbagai praktek pendidikan disusunlah suatu pemikiran-pemikiran secara teoritis. Pemikiran teoritis ini kemudian disusun menjadi satu system pendidikan. inilah yang dimaksud dengan ilmu pendidikan teoritis (sistematis). Teoritis sama saja dengan sistematis.[14] Ilmu pendidikan sistematis memberikan suatu pemikitan-pemikiran secara tersusun dan lengkap tentang masalah-masalah pendidikan. ilmu pendidikan sistematis ini membahas semua permasalahan pokok dalam pendidikan secara universal, abstrak dan objektif (pendapat Langeveld).[15] Pendidikan sistematis ini sangat berkatian dengan sejarah pendidikan. sejarah pendidikan berisikan tentang berbagai uraian yang terakhir menganai system-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan melihat latar belakang kebudayaan yang sangat berpengaruh pada waktu itu.[16] Seberapa besar keterkaitan atau sumbangan sejarahpendidikan terhadap teori pendidikan maupun praktek pendidikan? untuk mengetahuinya kita ikuti kisah berikut; Di jaman Yunani kuno ada aliran Stoa, salah seorang pengikutnya bernama Epiktetos. Dia adalah seorang yang berlatar belakang budak, ia berusaha untuk tetap membela teori sikap kolektivisme. Apabila teori Epiktetos ini benar, berarti ia tidak mengakui perbedaan manusia. Tetapi dia dengan tegas tidak menyatakan perbedaan dalam derajat. Menurutnya walaupun ada persamaan secara lahir, tetapi dalam derajat rohaniyah kita perlu mengakui bahwa ada perbedaan. Dengan kata lain bahwa walaupun Epiktetos mengatakan semua anak manusia itu sama derajat dan martabatnya, tapi perlu diakui bahwa tiap anak manusia terdapat perbedaan yang khas. Menurut dia, kata ‘persamaan’ tidak bole diartikan sebagai kesamaan lair, tapi perlu diperhatikan lagi dimana letak konkrit kesamaannya. Sebaliknya harus berhati-hati dalam kesamaan itu, keduanya harus silang dalam kenyataan atau dikatakan harus ada keseimbangan dalam menerangkan kedua prinsip itu. Dari kisah sejarah pendidikan ini terlihat secara jelas bahwa pandangan-pandangan teoritis yang tersusun dapat dipakai sebagai peringatan untuk menyusun teori pendidikan selanjutnya (yang baru). Kesimpulannya bahwa terlihat ilmu pendidikan sistematis mendahului ilmu pendidikan historis, tetapi ilmu pendidikan historis ini memberikan bantuan dan menjadikan bahan untuk memperkaya ilmu pendidikan sistematis. Teori-teori yang ditemukan (baik dari ilmu sistematis maupun historis) keduannya membantu para pendidik agar selalu waspada dan hati-hati dalam praktek-praktek pendidikan.[17] Ilmu pendidikan historis memberikan uraian-uraian teoritis tentang system-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan melihat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang berpengaruh pada jaman itu. Ilmu pendidikan historis mempunyai hubungan timbale balik dengan ilmu pendidikan sistematis. Sebaliknya ilmu pendidikan sistematis akan dibangkitkan untuk masalah pendidikan yang baru apabila ilmu ini terbuka untuk menerima bahan-bahan dari ilmu pendidikan historis, tetapi bila dibandingkan antara keduanya maka yang sistematislah yang primair karnea penuturan yang sistematis harus lebih dahulu untuk memungkinkan penyusunan ilmu historis[18] Para pendidik yang genial[19] sebenarnya memakai teorinya tersendiri, walau teroi itu belum disadari atau belum disistematiskan. Seorang pakar ilmu pendidikan J.M. Gunning pernah berkata bahwa teori tanpa praktek adalah baik untuk para cendikia, dan praktek tanpa teori hanya ada pada orang-orang yang gila da para penjahat. Maka dari itu para pendidik perlu suatu teori dan praktek yang berjalan bersama-sama (saling). Ilmu pendidikan adalah suatu ilmu pendidikan yang memerlukan pemikiran teoritis, kenapa? Tiap-tiap pendidik akan mendengarkan kritik-kritik, catatan-catatan, sumbangan pemikiran dari para ahli. Pendidik akan mulai memikirkan secara kritis tindakan-tindakan dalam perbuatan mendidiknya (ia bis belajar dari catatan dan kritik saran orang lain). J.M Gunning pernah berkata bahwa mempelajari ilmu pendidikan berarti mengubah diri sendiri menjadi orang lain, karena ada pemikiran teoritis tentang tindakan mendidik itu sendiri, sehingga dianggap bahwa teori itu diperlukan. Salah satu masalah yang dianggap perlu pemikiran teoritis adalah apakah anak peserta didik itu perlu untuk berkembang, perlu berapa jauh lingkungan pendidikan, potensi kreatifitas peserta didik berkembang. Pemikiran yang mendasar ini selalu dibicarakan dari abad-ke adab. Hal-hal ini memerlukan pemikiran teoritis. Bertolak pula dari kenyataan praktek pendidikan pada jaman tersebut. Ketika kita membaca rumusan tujuan pendidkan dari jaman ke jaman, akan kita dapatkan gambaran bagaimana caranya orang memperagakan suatu gambaran ideal tentang manusia dan masyarakat yang diharapkan. Setiap saat tujuan pendidikan itu berpindah dan berbeda-beda; suatu saat orang menghendaki tujuan pendidikannya membentuk rakyat yang kuat seperti terjadi di Yunani, suatu saat tujuan pendidikannya membentuk manusia yang baik yang mengabdi pada Negara, suatu saat tujuan pendidikannya adalah membentuk manusia yang baik yang dipersiapkan (kehidupan di dunia-akhirat), suatu saat orang menekankan kebebasan manusia sebagai individu dan lain pihak menghendaki kepentingan bersama, pada suatu saat orang menginginkan keseimbangan antara individu dan kepentingan bersama. Pendidikan perlu jangka waktu yang panjang, sebab pendidikan bercorak perbuatan pendidkan. Dalam perbuatan, biasanya orang bisa melihat dan men-cek hasilnya segera. Hasil pendidikan itu baru dapat dilihat pada generasi berikutnya. Untuk meneliti hasil pendidikan itu orang harus melihat bagaimana cara bertindak, mendidik dan bagaimana cara hidup anak di masa dewasa nanti. Kesimpulannya bahwa pendidik ini memerlukan; 1 status dia sebagai pendidik, 2 tahu tujuan pendidikan, 3 tahu peserta didiknya, 4 tahu cara dan metode mendidik yang sesuai jenjang perkembangan anak yang selanjutnya membawanya pada pencapaian tujuan pendidikan, 5 tahu martabat manusia secara umum (dijelaskan dalam antropologi pendidikan). Dari penjelasan ini dapat dikatakan bahwa ilmu pendidikan memerlukan pemikiran teoritis, yakni perlu pemikiran yang tersusun secara teratur dan sistematis. Ilmu Pendidikan Praktis Ilmu pendidikan praktis memberikan pemikiran tentang masalah dan ketentuan-ketentuan pendidikan yang langsung ditujukan kepada perbuatan mendidik. Ilmu pendidikan praktis ini menempatkan diri di dalam situasi pendidikan dan mengarahkan diri pada perwujudan/ realisasi dari ide-ide yang dibentuk dan dari kesimpulan-kesimpulan yang diambil. Menurut Langeveld dalam bukunya dikatakan bahwa praktek yang tidak dibimbing oleh hipotesa atau teori-teori tertentu, maka akan berakhir sebagai pemborosan dana, tenaga dan waktu karena hanya didasarkan pada percobaan yang tidak terarah dan tidak menentu. Sebenarnya praktek dapat mengubah teori atau dengan kata lain apabila pakta tida sesuai dengan teori, maka teori itu mesti diubah. Jadi pakta ini dapat memperkaya teori. Kesimpulannya antara teori dan praktek harus saling mengisi. Teori tanpa praktek seperti kompas yang di pendam. Sebaliknya bila praktek tanpa teori seperti kapal berlayar tanpa radar.[20] Dari ilmu pendidikan praktis dapat dihasilkan ilmu-ilmu seperti pendidikan social, keluarga, luar biasa, agama, dan lainnya. Tabel 2. Pembagian Ilmu Pendidikan Teori dan Praktek dalam Pendidikan Islam Pengkajian bahan-bahan yang didapat dari proses empiris, baik itu penelitian kualitatif atau kuantitatif, sangat memerlukan pendalaman dan pengulasan teori yang dikembangkan. Intinya antara teori (ilmu pendidikan islam) dan fakta yang berkembang dalam lapangan empiris mesti saling berkaitan. Adapun keterkaitannya meliputi; Teori menetapkan adanya hubungan dari fakta yang ada Teori mengembangkan system klarifikasi dan struktur dari konsep-konsep. Perlu dilihat bahwa fakta alam yang ada disekitar kita tidak menyediakan system yang siap pakai untuk pengklasifikasian objek keilmuan yang berupa fakta dan kejadian-kejadian, metode dan sebagainya; manusia itulah yang bertindak sebagai pengatur dan merumuskannya sehingga menjadi bermakna dan berguna bagi dirinya. Teori harus mengikhtisarkan fakta-fakta, oleh sebab itu sbuah teori mesti mampu menerangkan sejumlah besar fakta. Teori harus dapat meramalkan fakta. Karena salah satu tugas dari sebuah teori adalah dapat meramalkan kejadian-kejadian sebelum terjadi. Antara teori dan praktek di satu pihak harus saling berhubungan, di lain pihak harus dikembangkan melalui kegiatan penelitian sebagai sarana memperkaya dan mengoreksi konsep-konsep operasional pendidikan tersebut. Karena melihat bahwa ilmu pendidikan Islam bersifat teoritis dan praktis, maka agar keduanya bercorak ilmiyah- harus ada usaha sistematisasi yang tersusun baik sehingga mampu memberikan deskripsi tentang fakta/ data dari pengalaman dalam pengertian yang sederhana mungkin. Agar corak teoritis dari keilmuan kependidikan Islam itu tidak berkurang, maka teori-teori yang dirumuskan itu lahir dari hipotesa-hipotesa yang dianalisis melalui proses pemikiran yang sifatnya deduktif dan induktif serta analisis-sintesis. Suatu fakta atau pengalaman yang relevan merupakan bahan-bahan analisis yang dijadikan pembuktian atas kebenaran hipotesis tersebut. Ilmu pendidikan Islam teoritis juga mengandung watak dan cirri praktis. Watak dan cirri ini tidak perlu ada pemisahan antara bersifat teoritis dan yang praktis, keduanya telah mencakup dalam pengertian ilmu itu sendiri. Teori tanpa praktek tidak akan bermakna, praktek tanpa teori adalah kabur. Teori harus menunjukan kebutuhan-kebutuhan untuk dikembangkan dalam penelitian lebih lanjut.[21] Poin-Poin Penjelasan Ilmu Pendidikan bersifat Normatif Sebagai ilmu pengetahuan normative, ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah, norma-norma atau ukuran tingkah laku, perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan manusia. Atau ilmu pendidikan bertugas merumuskan peraturan-peraturan tentang tingkah laku perbuatan makhluk yang bernama manusia dalam kehidupan dan penghidupannya. Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan atau pendidik/ guru adalah menanamkan system-sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat. Sesuai dengan kenyataan di atas, ilmu pendidikan erat hubungannya dengan ilmu filsafat dan ilmu pengetahuan normative lainnya yang dalam sejarah perkembangan merupakan bagian dari yang tak terpisahkan dan baru pada abad modern ini memisahkan diri sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri yang dinamai Filsafat Pendidikan pada tahun 1908 M. Ilmu pengetahuan yang dapat dimasukan kepada ilmu pengetahun normative meliputi; agama, filsafat dengan cabang-cabangnya (metafisika, etika, estetika, logika), way of life sosial masyarakat, kaidah pundamental Negara maupun tradisi kepercayaan bangsa. Bahwa agama, filsafat dengan cabangnya serta istilah yang ekuifalen lainnya menentukan dasar-dasar dan tujuan hidup yang akan menentukan dasar dan tujuan pendidikan manusia, dan selanjutnya akan menentukan tingkah laku perbuatan manusia dalam kehidupan dan penghidupannya. Bahwa dalam perumusan tujuan-tujuan altimit dan proksimit, pendidikan akan ditetapkan hakikat dan sifat hakikat manusia dari segi-segi pendidikan yang akan dibina dan dikembangkan melalui prose pendidikan sebagaimana yang tercantum/ dirumuskan dalam system pendidikan (science of education). Bahwa system pendidikan atau science of education bertugas merumuskan alat-alat, prasarana, pelaksanaan, tekhnik-tekhnik dan atau pola-pola proses pendidikan dan pengajaran yang di mana akan dicapai dan dibina tujuan-tujuan pendidikan, dan ini meliputi problematika kepemimpinan dan metode pendidikan, politik pendidikan, sampai kepada seni mendidik (the art of education). Isi moral pendidikan atau tujuan intermidit adalah berisi perumusan norma-norma atau nilai-nilai spiritual etis yang akan dijadikan system nilai pendidikan dan atau merupakan konsepsi dasar nilai moral pendidikan yang berlaku disegala jenis dan tingkat pendidikan. Bahwa wajar setiap manusia mempunyai filsafat hidup atau kaidah-kaidah berpikir dan pikiran tentang kehidupan dan penghidupannya, maka suatu keharusan agar setiap pendidik dan gurumemiliki dan membina filsafat pendidikan yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas pendidikan dan pengajarannya, baik di dalam maupun di luar lembaga pendidikan formal sekolah yaitu di dalam masyarakat. Filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi bertugas merumuskan secara normative dasar-dasar dan tujuan pendidikan, hakikat dan sifat hakaikat manusia, hakikat dan segi-segi pendidikan, isi moral pendidikan, system pendidikan yang meiputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan dan metodologi pengajarannya, pola-pola kaulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat.[22]
Posted on: Wed, 19 Jun 2013 05:11:12 +0000

Trending Topics



Recently Viewed Topics




© 2015